Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 April 2014

Saya ini geram ya..

Judul di atas mengutip dari salah satu standup comedian (you know who). Ya kira-kira begitulah tema dari tulisan ini sekaligus isi dari ungkapan hati saya nantinya :v
Merasa tergelitik ketiga membaca timeline twitter salah satu teman saya yang juga seorang aktivis dari Universitas Seberang #nomention . Kira-kira twitnya tentang kekecewaanya pada mahasiswa tahun ini yang seolah terpecah belah oleh partai-partai yang mereka dukung. Twit selanjutnya saya memang tidak begitu paham karena melibatkan salah satu organisasi yang masalahnya cuma dia yang tau. Jadi memang benar apa yang dia twitkan, tapi disini tidak akan membahas tentang partai-partai, karena saya sendiri masih newbie untuk masalah politik negara. Saya ingin kecilkan hingga skala kampus.
Sebenarnya ini mungkin bukan sebuah masalah politik, hanya sebuah kasus dalam kehidupan organisasi kampus. Selama dalam kehidupan berorganisasi di kampus mungkin saya bukanlah orang yang berpengaruh. Paling tinggi mendapat amanah setingkat kepala divisi yang secara langsung mengkoordinasi staff-staff dan siap menerima perintah dari ketua. Namun saya sendiri lebih sering mengamati bagaimana sikap para mahasiswa dalam organisasi. Masing-masing mengunggulkan organisasinya, berlomba-lomba membuat event besar dari skala regional sampai internasional. Namun outputnya hanya berjalan sementara alias tidak berkelanjutan. Lalu akhirnya muncul para kritikus organisasi mahasiswa (biasanya para senior) yang menilai bahwa mahasiswa sekarang tak lebih dari event organizer. Hanya mampu memperkaya skill mereka sendiri, tapi kontribusinya terhadap negara? Nol.
Selain itu yang saya amati, menilik twit teman saya tadi, banyak ormawa yang “tidak akur” satu sama lain, sulit untuk diajak bekerjasama. Kebanyakan karena perbedaan ideologi, ruang lingkup, regional, AGAMA bahkan ALIRAN. Padahal kita tau, bahwa kekuatan yang lebih banyak tentunya akan tercipta pergerakan yang lebih besar. Tapi kita lihat sekarang sesama ormawa malah asyik saling ejek dan saling sindir satu sama lain.
Sudah, maaf jika tulisannya sotoy



Senin, 24 Juni 2013

Pohon Tinggi

Kali ini saya akan memposting hal yang mainstrem, hoho

Salah satu acara pencarian bakat yang sudah lama naik daun, X-Factor. Yang ditayangkan jumat malam kemarin memang cukup menarik perhatian. Di mana salah satu pesertanya (sebut merk aja ya) Fatin Shidqia Lubis yang tiba-tiba di awal lupa lirik saat menyanyikan lagu “Everything at once” yang dipopulerkan oleh lenka. Setelah menyanyi ia menangis karena Tengsin. Seketika saya mencoba mencari nama fatin pada kotak search twitter untuk menemukan beberapa tweet yang memuat nama fatin disana. Setelah membaca satu persatu, ternyata kebanyakan berisi tentang pernyataan kecewa, hingga memaki-maki peserta tersebut, mungkin saja mereka haters. Bahkan timeline saya sendiri juga sama isinya. Hanya segelintir orang saja yang memberi semangat dan tidak peduli dengan twit orang lain.

Oke, disini saya bukanlah penggemar Fatin, bahkan saya tidak tahu rumahnya dimana. Saya disini hanyalah pengamat dari sebuah ajang yang menarik ini. Disini saya menilai perilaku seseorang di media digital memang dapat dinilai menyimpang, mereka terlalu bebas dan kadang mengikuti aliran yang ada. Ya maklum, saat berinteraksi di dunia kita memang tidak bertatap muka secara langsung dengan lawan bicara. Contohnya seperti ini. Mungkin anda akan takut jika berhadapan dengan preman di dunia nyata, tapi apa yang terjadi jika preman tersebut tetap berada di depan anda tapi dengan perantara webcam? Dan preman tersebut tidak tahu siapa anda dan rumah anda. Tentunya anda akan lebih berani, bahkan mengumat di depan preman tersebut hingga ia naik pitam, karena preman tersebut tidak mungkin memukuli anda.